Minat orang-orang
yang ingin menjadi pelaut semakin banyak, ini terbukti dari banyaknya jumlah
peserta yang mendaftar untuk ikut Diklat Keterampilan Pelaut, dan makin
ramainya remaja disetiap sekolah pelayaran ingin menjadi Taruna.
![]() |
| Suasana pendaftaran Diklat Pelaut |
Jika ditanya
"kenapa ingin jadi Pelaut?", jawabannya rata-rata sama.
INGIN PENGHASILAN YANG
TINGGI
Terkadang ditambah hiasan biar bisa
jalan-jalan keluar Negeri gratis, kerjanya santai, seru, dan sebagainya.
Terkadang juga disamarkan
suka tantangan, suka jalan-jalan, pekerjaannya yang hebat, dan lain-lain.
Sudah banyak orang yang bercerita bahwa jadi pelaut
itu enak, jadi rasanya tidak perlu terlalu menjabarkan keuntungan menjadi
seorang pelaut itu seperti apa. Tapi apa benar jadi pelaut itu enak?
Untuk menjadi pelaut cukup mudah, hanya diperlukan
sebuah Buku Pelaut dan Sertifikat Keterampilan Latihan Keselamatan Dasar atau
lebih dikenal dengan nama Basic Safety Training (BST). dengan kedua hal
itu seorang sudah dapat kerja diatas kapal. buku pelaut bisa didapatkan dengan
datang langsung ke kantor syahbandar dipelabuhan umum dengan membawa berkas
yang diperlukan dan membayar biaya administrasi sekitar Rp 150.000 (harga
berbeda-beda ditiap daerah), sedangkan untuk BST harus ikut pelatihan selama
kurang lebih 8 hari disekolah-sekolah pelayaran Negeri dengan biaya sekitar
Rp1.200.000.
setelah memiliki kedua persyaratan diatas barulah
dapat melamar keperusahaan pelayaran untuk bekerja diatas kapal, namun jabatan
yang diperoleh akan rendah sehingga otomatis gaji juga pasti rendah.
rata-rata gaji pelaut yang hanya bermodal BST dan
buku pelaut sekitar Rp 500.000 sampai Rp 1.750.000. tapi jika berlayar keluar
negeri bisa sampai Rp. 6.500.000 dengan catatan harus memiliki passport dulu.
adapun biaya untuk mengurus passport adalah sekitar Rp 350.000. Jadi modal awal
untuk menjadi pelaut itu paling minim Rp1.350.000, untuk dapat bekerja diatas
kapal dengan gaji Rp 500.000-1.750.000. jika dibanding upah kerja didarat yang
berkisar 1.100.000-2.700.000 sesuai Upah Minimum Pekerja (UMP) tiap daerah yang
hanya bermodal foto 3x4 dan fotocopy ijazah SMA yang tidak sampai Rp.30.000
menurut anda bagaimana??
Kemudian anda berpikir ingin menambah Rp 350.000
untuk mengurus passport agar dapat bekerja dikapal luar dengan gaji Rp.
6.500.000. kedengarannya memang cukup menarik, tapi tunggu hingga anda bertemu
dengan ombak setinggi 6 meter. laut diluar negeri bukanlah laut yang mudah
dilalui. resikonya tinggi. jika berlayar bisa makan waktu berminggu-minggu
hingga ketempat tujuan. Bayangkan jika anda mabuk laut selama perjalanan,
muntah sampai isi perut keluar semua, mau diisi
selera makan tidak ada, mau dipaksa makan susah, makanan tumpah dimana-mana
digoyang ombak. enaknya ya cuma tidur tapi tidak bisa lagi karena harus tetap kerja,
selesai jam kerja baru bisa tidur. Masih mending jika kapal tiba
dipelabuhan tidak masuk rumah sakit. Masih bagus lagi kalau tidak di Off. Biasanya pelaut yang tidak
tahan ombak akan diberhentikan kerja oleh perusahaan kalaupun perusahaan tidak
memberhentikan, biasanya orang itu sendiri yang minta berhenti. Kalau sudah
begitu uang yang sudah dikeluarkan untuk pengurusan buku pelaut, BST, dan
passport jadi terbuang percuma.
Sekarang mari kita asumsikan fisik anda kuat, tidak
mabuk laut, dan kerja dikapal luar dengan gaji Rp. 6.500.000 Cuma bermodal Buku
pelaut, BST, dan Passport. Menyenangkan bukan?? Namun sayang harus ada yang anda korbankan,
yaitu waktu bersama keluarga anda. Mungkin anda berpikir lebih baik seperti ini
daripada hidup dalam kesulitan finansial, dengan begini segala kebutuhan hidup
dapat terpenuhi. Jika anda siap menukar semua itu dengan kehilangan moment
kelahiran pertama anak anda, meng-Adzankan anak anda lewat telefon, bahkan
mungkin dipanggil “Om” oleh anak anda saat anda pulang. atau tidak hadir di acara
pernikahan saudara, juga tidak hadir saat ada keluarga yang meninggal maka anda
cocok jadi pelaut.
Terakhir, ada yang mengatakan tidak perlu berlayar
ke luar negeri, didalam negeri juga penghasilannya banyak, memang gaji tidak
sebesar diluar tapi ada pemasukan dari berbagai sumber yang bisa menyamai
penghasilan dikapal luar, ditambah lagi berlayar didalam negeri bisa sering
pulang kerumah.
Oke, itu betul. Tapi itu dulu. Pemasukan dari
berbagai sumber yang dimaksud adalah pemasukan dari penjualan sisa bahan bakar
kapal (Minyak), besi tua, Drum oli, oli bekas, sisa uang makan, dan
inventaris-inventaris kapal lainnya yang tidak terpakai. Yang menjadi pemasukan
tambahan primadona adalah pemasukan dari hasil penjualan sisa bahan bakar kapal
(minyak), namun pemasukan ini ada sebagian yang menganggap haram, ada juga yang
menganggap halal. Dan sekarang perusahaan-perusahaan kapal sudah banyak yang
mulai memasang cctv dikapal untuk mencegah Anak Buah kapal (ABK) untuk menjual
minyak. Kalaupun ada pemasukan dari sisa uang makan dan yang lainnya paling itu tidak
seberapa.

No comments:
Post a Comment