Sunday, September 27, 2015

Mau jadi PELAUT ?? Coba Pikir Ulang


Minat orang-orang yang ingin menjadi pelaut semakin banyak, ini terbukti dari banyaknya jumlah peserta yang mendaftar untuk ikut Diklat Keterampilan Pelaut, dan makin ramainya remaja disetiap sekolah pelayaran ingin menjadi Taruna.


Sertifikat Pelaut
Suasana pendaftaran Diklat Pelaut
Jika ditanya "kenapa ingin jadi Pelaut?", jawabannya rata-rata sama.

INGIN PENGHASILAN YANG TINGGI 

Terkadang ditambah hiasan biar bisa jalan-jalan keluar Negeri gratis, kerjanya santai, seru, dan sebagainya.
Terkadang juga disamarkan  suka tantangan, suka jalan-jalan, pekerjaannya yang hebat, dan lain-lain.

Sudah banyak orang yang bercerita bahwa jadi pelaut itu enak, jadi rasanya tidak perlu terlalu menjabarkan keuntungan menjadi seorang pelaut itu seperti apa. Tapi apa benar jadi pelaut itu enak?

Untuk menjadi pelaut cukup mudah, hanya diperlukan sebuah Buku Pelaut dan Sertifikat Keterampilan Latihan Keselamatan Dasar atau lebih dikenal dengan nama Basic Safety Training (BST). dengan kedua hal itu seorang sudah dapat kerja diatas kapal. buku pelaut bisa didapatkan dengan datang langsung ke kantor syahbandar dipelabuhan umum dengan membawa berkas yang diperlukan dan membayar biaya administrasi sekitar Rp 150.000 (harga berbeda-beda ditiap daerah), sedangkan untuk BST harus ikut pelatihan selama kurang lebih 8 hari disekolah-sekolah pelayaran Negeri dengan biaya sekitar Rp1.200.000.

setelah memiliki kedua persyaratan diatas barulah dapat melamar keperusahaan pelayaran untuk bekerja diatas kapal, namun jabatan yang diperoleh akan rendah sehingga otomatis gaji juga pasti rendah.

rata-rata gaji pelaut yang hanya bermodal BST dan buku pelaut sekitar Rp 500.000 sampai Rp 1.750.000. tapi jika berlayar keluar negeri bisa sampai Rp. 6.500.000 dengan catatan harus memiliki passport dulu. adapun biaya untuk mengurus passport adalah sekitar Rp 350.000. Jadi modal awal untuk menjadi pelaut itu paling minim Rp1.350.000, untuk dapat bekerja diatas kapal dengan gaji Rp 500.000-1.750.000. jika dibanding upah kerja didarat yang berkisar 1.100.000-2.700.000 sesuai Upah Minimum Pekerja (UMP) tiap daerah yang hanya bermodal foto 3x4 dan fotocopy ijazah SMA yang tidak sampai Rp.30.000 menurut anda bagaimana??

Kemudian anda berpikir ingin menambah Rp 350.000 untuk mengurus passport agar dapat bekerja dikapal luar dengan gaji Rp. 6.500.000. kedengarannya memang cukup menarik, tapi tunggu hingga anda bertemu dengan ombak setinggi 6 meter. laut diluar negeri bukanlah laut yang mudah dilalui. resikonya tinggi. jika berlayar bisa makan waktu berminggu-minggu hingga ketempat tujuan. Bayangkan jika anda mabuk laut selama perjalanan, muntah sampai isi perut  keluar semua, mau diisi selera makan tidak ada, mau dipaksa makan susah, makanan tumpah dimana-mana digoyang ombak. enaknya ya cuma tidur tapi tidak bisa lagi karena harus tetap kerja, selesai jam kerja baru bisa tidur. Masih mending jika kapal tiba dipelabuhan tidak masuk rumah sakit. Masih bagus lagi kalau tidak di Off. Biasanya pelaut yang tidak tahan ombak akan diberhentikan kerja oleh perusahaan kalaupun perusahaan tidak memberhentikan, biasanya orang itu sendiri yang minta berhenti. Kalau sudah begitu uang yang sudah dikeluarkan untuk pengurusan buku pelaut, BST, dan passport jadi terbuang percuma.

Sekarang mari kita asumsikan fisik anda kuat, tidak mabuk laut, dan kerja dikapal luar dengan gaji Rp. 6.500.000 Cuma bermodal Buku pelaut, BST, dan Passport. Menyenangkan bukan??  Namun sayang harus ada yang anda korbankan, yaitu waktu bersama keluarga anda. Mungkin anda berpikir lebih baik seperti ini daripada hidup dalam kesulitan finansial, dengan begini segala kebutuhan hidup dapat terpenuhi. Jika anda siap menukar semua itu dengan kehilangan moment kelahiran pertama anak anda, meng-Adzankan anak anda lewat telefon, bahkan mungkin dipanggil “Om” oleh anak anda saat anda pulang. atau tidak hadir di acara pernikahan saudara, juga tidak hadir saat ada keluarga yang meninggal maka anda cocok jadi pelaut.

Terakhir, ada yang mengatakan tidak perlu berlayar ke luar negeri, didalam negeri juga penghasilannya banyak, memang gaji tidak sebesar diluar tapi ada pemasukan dari berbagai sumber yang bisa menyamai penghasilan dikapal luar, ditambah lagi berlayar didalam negeri bisa sering pulang kerumah.

Oke, itu betul. Tapi itu dulu. Pemasukan dari berbagai sumber yang dimaksud adalah pemasukan dari penjualan sisa bahan bakar kapal (Minyak), besi tua, Drum oli, oli bekas, sisa uang makan, dan inventaris-inventaris kapal lainnya yang tidak terpakai. Yang menjadi pemasukan tambahan primadona adalah pemasukan dari hasil penjualan sisa bahan bakar kapal (minyak), namun pemasukan ini ada sebagian yang menganggap haram, ada juga yang menganggap halal. Dan sekarang perusahaan-perusahaan kapal sudah banyak yang mulai memasang cctv dikapal untuk mencegah Anak Buah kapal (ABK) untuk menjual minyak. Kalaupun ada pemasukan dari sisa uang makan dan yang lainnya paling itu tidak seberapa.

No comments:

Post a Comment